gasingnews.id,RANTEPAO — Kekhawatiran atas meningkatnya penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Toraja Utara mendorong organisasi PMTI Peduli menggelar dialog pelajar, Selasa, 21 April 2026. Mengusung tema “Generasi Toraja Tangguh Lawan Narkoba, Bangun Masa Depan”, kegiatan ini menyasar pengurus OSIS sebagai simpul pengaruh di lingkungan sekolah.

Bertempat di Aula SMA Negeri 1 Toraja Utara, ratusan siswa dari sedikitnya 11 sekolah menengah mengikuti forum tersebut. Mereka tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi didorong aktif berdiskusi soal ancaman narkoba yang kian dekat dengan kehidupan remaja.

‎Sekretaris Daerah Toraja Utara, Salvius Pasang, yang membuka kegiatan mewakili bupati, menegaskan bahwa perang terhadap narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Peran generasi muda, menurut dia, menjadi kunci pencegahan di tingkat paling awal.

“Jangan ada satu pun dari kalian yang terlibat narkoba. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi jalan menuju kehancuran masa depan,” ujar Salvius di hadapan peserta.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari institusi penegak hukum dan rehabilitasi, antara lain Kepala BNNK Tana Toraja AKBP Ustim Pangarian, Satuan Reserse Narkoba Polres Toraja Utara, serta perwakilan Kejaksaan Tana Toraja. Diskusi dipandu Ketua KNPI Toraja Utara dengan pendampingan guru pembina dari masing-masing sekolah.

Ustim Pangarian menempatkan persoalan narkoba dalam konteks yang lebih luas. Ia menyebut peredaran dan penyalahgunaan narkotika sebagai kejahatan lintas negara yang terus berevolusi.

“Narkoba bukan lagi isu lokal. Ini kejahatan global yang penanganannya harus luar biasa. Tanpa langkah serius, wilayah seperti Toraja pun akan terus menjadi sasaran,” katanya.

Ia juga mengurai dampak medis dan sosial yang ditimbulkan. Penggunaan narkotika, menurut dia, tidak hanya merusak fungsi otak, tetapi juga memicu penyakit kronis seperti gangguan paru-paru, hepatitis, hingga kerusakan ginjal. Dalam jangka panjang, pengguna berisiko kehilangan masa depan pendidikan dan karier.

‎Di sisi lain, PMTI menegaskan kegiatan ini bukan respons sesaat terhadap isu yang ramai di media sosial. Perwakilan PMTI Toraja Utara, Brikken Linde Bonting, menyebut dialog pelajar sebagai bagian dari upaya sistematis membangun kesadaran kolektif.

“Kami ingin ini menjadi gerakan, bukan sekadar acara. Karena itu kami libatkan OSIS dari berbagai sekolah agar pesan ini menyebar lebih luas,” ujarnya.

Menurut Brikken, pelajar memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di lingkungan sebaya. Dengan pemahaman yang tepat, mereka diharapkan mampu menjadi benteng pertama dalam menolak sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba.

Dialog ditutup dengan komitmen peserta untuk menyebarluaskan informasi yang diperoleh di sekolah masing-masing—sebuah langkah kecil yang diharapkan mampu menahan laju ancaman narkoba di Toraja Utara.