gasingnews.id,Gowa — Tim CARA’DE Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin (BEM KMF TP UH) menggelar pelatihan budidaya maggot bagi masyarakat Desa Tinggimae, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) 2026 yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui inovasi pengelolaan lingkungan.

Pelatihan diikuti 17 peserta yang berasal dari Kelompok Wanita Tani (KWT), Karang Taruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perangkat Desa Tinggimae. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Foto : Istimewa

Penyuluh Perikanan Kecamatan Parangloe, Andi Bambang Suriansya, menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia mengatakan persoalan sampah organik masih menjadi tantangan di berbagai daerah sehingga diperlukan pendekatan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.

“Sampai sekarang kesulitan terbesar kita adalah sampah,” kata Andi Bambang.

Menurut dia, budidaya maggot mampu mempercepat proses penguraian limbah organik sekaligus menghasilkan produk bernilai guna.

“Dengan maggot bisa membantu kita mengurangi sampah organik,” ujarnya.

Dalam pelatihan itu, peserta mempelajari berbagai aspek budidaya maggot, mulai dari karakteristik lalat BSF, siklus hidup, teknik pemeliharaan, penentuan lokasi budidaya, pengelolaan pakan, hingga pengendalian hama. Pemateri juga menjelaskan bahwa maggot dapat dipanen pada usia 14–18 hari dan memiliki kandungan protein tinggi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ikan maupun ternak.

Foto : Istimewa

Ketua pelaksana kegiatan menyebutkan pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong lahirnya peluang usaha berbasis ekonomi sirkular di tingkat desa. Melalui penerapan budidaya maggot, limbah organik rumah tangga diharapkan dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis tanpa menambah beban lingkungan.

Tim CARA’DE BEM KMF TP UH berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga Desa Tinggimae mampu mengurangi timbunan sampah organik, menjaga kualitas lingkungan, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.

Di akhir kegiatan, Andi Bambang berharap Desa Tinggimae dapat berkembang menjadi desa percontohan budidaya maggot di Kabupaten Gowa. Menurut dia, keberhasilan desa dalam mengelola sampah organik melalui budidaya Black Soldier Fly dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.