gasingnews.id,Enrekang — Rumah Sakit Pratama Mitra Belajen yang terletak di Sudu, Belajen, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, hingga kini masih terbengkalai meski dibangun dengan anggaran negara sekitar Rp4,5 miliar. Proyek strategis sektor kesehatan yang digadang-gadang menjadi solusi layanan medis bagi masyarakat wilayah selatan Enrekang itu kini justru berubah menjadi simbol kegagalan perencanaan dan lemahnya komitmen pemerintah daerah.

‎Rumah sakit tersebut awalnya dibangun untuk meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat, sekaligus mengurangi beban pasien yang selama ini harus dirujuk ke rumah sakit di Toraja. Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Bangunan megah yang seharusnya menjadi fasilitas vital itu tidak pernah berfungsi optimal dan dibiarkan mangkrak selama belasan tahun.

‎Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Sejumlah bagian terlihat rusak, cat mengelupas, halaman dipenuhi semak belukar, dan tidak ada aktivitas pelayanan kesehatan sama sekali. Warga setempat mengaku kecewa dan marah karena fasilitas yang dibangun dari uang rakyat tersebut tak memberi manfaat apa pun.

‎“Dulu katanya mau jadi rumah sakit rujukan supaya kami tidak jauh-jauh ke Toraja. Tapi sampai sekarang tidak pernah dipakai. Sekarang malah seperti rumah kosong angker,” ujar seorang warga Belajen.

‎Kekecewaan masyarakat semakin memuncak hingga bangunan itu kerap disebut bukan lagi sebagai rumah sakit, melainkan “sarang setan” karena lama terbengkalai dan terkesan menyeramkan. Sebutan ini menjadi potret nyata betapa jauhnya jarak antara janji pembangunan dan realisasi pelayanan publik.

‎Ironisnya, di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah pedalaman Enrekang, aset publik bernilai miliaran rupiah tersebut justru dibiarkan tanpa kejelasan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius, di mana perencanaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban pemerintah daerah?

‎Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi yang disampaikan secara terbuka kepada publik mengenai alasan mangkraknya RS Pratama Mitra Belajen. Apakah disebabkan ketiadaan tenaga medis, kendala operasional, persoalan anggaran lanjutan, atau masalah administrasi lainnya, semuanya masih menjadi tanda tanya besar.

‎Pengamat kebijakan publik menilai, pembiaran aset negara seperti ini berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara dan mencerminkan buruknya tata kelola pembangunan. Selain merugikan daerah secara ekonomi, kondisi tersebut juga mencederai hak masyarakat atas pelayanan kesehatan yang layak.

‎Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Enrekang untuk segera bersikap terbuka dan mengambil langkah konkret. Apakah rumah sakit tersebut akan direvitalisasi, difungsikan sesuai peruntukan awal, atau dialihfungsikan melalui mekanisme yang sah, harus disampaikan secara jelas dan bertanggung jawab.

‎Tanpa kejelasan dan tindakan nyata, RS Pratama Mitra Belajen di Sudu, Alla, dikhawatirkan akan terus berdiri sebagai monumen pemborosan anggaran dan kegagalan pelayanan publik, sekaligus pengingat pahit bagaimana uang rakyat dapat terbuang tanpa manfaat.